Senin, 06 Juni 2011

Belajar Foto-jurnalisme, KFK (Klinik Foto Kompas) Tempatnya

Pernah nonton film “Flag of Our Father“ besutan sutradara Clint Eastwood? Film ini bercerita ihwal fakta di balik sebuah foto jurnalistik karya Joe Rosenthal. Jika Anda jeli, satu scene di film ini menjelaskan bahwa foto monumental itu tak sekedar hasil “on the right place at the right time”, bukan cuma untung-untungan. Di workshop Klinik Fotografi Kompas 20 Maret kemarin, Arbain Rambey dan Julian Sihombing menjelaskan gamblangnya.

Fotografi jurnalistik menjadi istilah yang membumi, mudah dicerna, dan tak bikin dahi mengkerut dibawah asuhan dua jurnalis foto senior harian KOMPAS itu. Dengan gaya bahasa yang ringan disertai presentasi hasil karya dan foto-foto pembanding sebagai contoh kasus, Arbain dan Julian berhasil mengatasi hambatan “ya gitu deh, Anda bisa merasakannya sendiri” yang biasa muncul saat transfer ilmu fotografi.



Workshop fotografi yang mengambil tema “Teknik Jurnalistik” ini mencoba member gambaran teknis seputar kinerja jurnalis foto. Kedua pembicara membagikan tips berguna di acara ini, mulai dari bagaimana membuat foto yang “beda” dari pemberitaan visual di TV hingga menjaga keselamatan diri selama melaksanakan aktifitas dibahas.

Saya akan coba merangkum beberapa tips workshop KFK kemarin.

Kekuatan pesan/informasi Dalam fotografi jurnalistik , yang ada hanya foto yang kuat dalam menyampaikan keseluruhan pesan dan lemah. Foto yang kuat adalah satu bingkai rekaman visual yang bisa menceritakan, memberi gambaran komprehensif pada audiens tentang satu rangkaian peristiwa, sehingga berhasil merepresentasi peristiwa tersebut. Di karya monumental Joe Rosenthal, hal tersebut sangat terasa.

Foto asli, bukan rekayasa
Ada dua hal penting saat membicarakan keaslian foto, pertama keaslian peristiwa yang diabadikan dalam foto, kedua keaslian subjek dan objek dalam foto. Arbain dalam menjelaskan poin pertama melalui pemuatan sebuah foto kontroversial tentang penyiksaan tawanan Afganistan oleh tentara Inggris di satu edisi The Daily Mirror 2004 yang akhirnya membuat pimred harian tersebut dipecat. Di era digital ini, poin kedua rasanya makin rentan dilakukan karena mudahnya hal itu dilakukan bahkan dengan program editing foto paling dasar sekalipun.

Dilandasi konsep

Seorang “tukang potret” akan potret, potret, dan potret saat mengabadikan peristiwa. Jurnalis foto harus beda. Dia harus punya konsep, kerangka berpikir, sehingga bisa “menemukan” apa yang harus dipotret. Saat membidik, Jurnalis foto akan berpikir bagaimana supaya karyanya bisa menjawab berbagai pertanyaan dan memberi informasi proporsional tentang sebuah peristiwa. Jika sudah terbiasa akan hal ini, dia akan mudah tahu kapan foto-foto yang diambilnya sudah cukup.

Persiapan yang baik

Jurnalis foto juga harus melakukan “seting gaya hidup” sesuai profesinya. Kebiasaan sederhana yang perlu dipupuk misalnya peralatan harus dalam keadaan siap, diletakkan terkumpul di tempat yang mudah diakses setiap saat.

Persiapan informasi tentang karakter lokasi pemotretan juga penting untuk keberhasilannya membuat foto berita. Misalnya ketika harus memotret bencana di pegunungan, selain menggunakan kostum yang nyaman dan aman untuk aktifitas luar ruangan, jumlah beban peralatan yang dibawanya juga harus diminimalkan agar stamina selama liputan tak cepat terkuras.

Fotografi jurnalistik tidak bisa lepas dari unsur manusia. Itu sebabnya pengetahuan mengenai hal-hal demografis sangat penting. Jurnalis foto perlu mengenal karakter manusia yang akan menjadi subjek fotonya. Bahkan dengan alasan memberi kedalaman pesan foto, ada jurnalis yang tak menganjurkan penggunaan lensa medium-panjang ketika subjek fotonya “approachable.”

Pendekatan dan bincang-bincang juga penting untuk menggali informasi tambahan, memperkuat konsep foto sebagai rekaman sepotong peristiwa, kalau mungkin, menumbuhkan pemahaman subjek akan arti penting foto yang menampilkan gambar dirinya.

Untuk menambah wawasan, saya sertakan satu link tentang karya-karya foto jurnalistik monumental dari forum tetangga di sini.

Selamat berlatih

Sumber : Kompasiana, Rob Januar

Tidak ada komentar:

Posting Komentar